Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kapasitas kelembagaan yang kuat dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, tantangan utamanya bukan pada tidak adanya program, melainkan pada keberlanjutan sistem pencegahan pasca-situasi darurat. Bagi para pemimpin muda, ini adalah pelajaran kunci: membangun strategi pencegahan yang terintegrasi dan kontinu jauh lebih krusial daripada sekadar merespons krisis. Akademisi UGM, Priyono Suryanto, mengidentifikasi bahwa gotong royong yang selama ini diandalkan sebagai respons krisis perlu diarahkan menjadi struktur pencegahan yang berkelanjutan untuk menghadapi kerentanan sistemik akibat perubahan penggunaan lahan.
Strategi Pencegahan: Dari Respons Krisis Menuju Sistem Berkelanjutan
Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM itu menekankan bahwa kerentanan sistemik terus berkembang, sehingga para pemimpin di tingkat organisasi maupun pemerintahan harus merancang strategi yang tidak hanya reaktif, tetapi proaktif dan adaptif. Berikut adalah tiga strategi kunci yang bisa diadopsi oleh para profesional muda dari analisis akademisi ini:
- Membangun Struktur Pencegahan Berkelanjutan — Jangan hanya mengandalkan semangat gotong royong saat krisis. Paradigma harus bergeser dari responsif menjadi preventif dengan sistem monitoring dan early warning yang terintegrasi di semua level organisasi.
- Memastikan Kontinuitas dan Integrasi Program — Tantangan terbesar adalah menjaga agar program pencegahan tetap berjalan meskipun situasi sudah aman. Pemimpin harus memastikan komitmen jangka panjang dan alokasi sumber daya yang konsisten.
- Mengelola Kerentanan Sistemik — Jangan abaikan faktor fundamental yang memicu risiko. Di organisasi, lakukan audit internal berkala untuk mengidentifikasi celah sistemik sebelum menjadi krisis besar.
Implikasi bagi Profesional Muda: Transformasi Budaya Preventif
Analisis akademisi ini memberikan perspektif penting bagi profesional muda dalam membangun sistem manajemen risiko yang proaktif. Transformasi dari budaya responsif menuju budaya preventif memerlukan perubahan paradigma dan komitmen jangka panjang. Pemimpin sejati tidak hanya dikenal karena kehebatannya memadamkan api, tetapi juga karena kemampuannya mencegah api itu muncul sejak awal. Untuk itu, para profesional muda harus mulai menerapkan langkah-langkah konkret berikut:
- Lakukan pemetaan risiko secara periodik terhadap proyek atau tim yang dipimpin.
- Bangun budaya transparansi dan pelaporan dini tanpa rasa takut.
- Pastikan setiap program pencegahan memiliki indikator keberhasilan yang terukur dan review berkala.
Takeaway untuk Profesional Muda: Mulailah dengan mengintegrasikan prinsip pencegahan ke dalam rutinitas kerja Anda — misalnya dengan menyisihkan 15 menit setiap minggu untuk mengevaluasi potensi risiko kecil yang bisa membesar. Buatlah sistem sederhana untuk mendokumentasikan pembelajaran dari setiap insiden, dan dorong tim Anda untuk melaporkan masalah sejak dini. Dengan cara ini, Anda tidak hanya menjadi pemimpin yang sigap, tetapi juga visioner yang mampu mengantisipasi tantangan sebelum menjadi krisis, sebagaimana diajarkan oleh akademisi UGM dalam mengelola karhutla di Indonesia.