Mayjen TNI Djon Afriandi, Danjen Kopassus, menawarkan blueprint kepemimpinan yang presisi: penegakan disiplin bukan soal kekerasan, tapi ketegasan yang proporsional dan berbasis fakta. Ini adalah kunci membedakan organisasi yang konstruktif dari mereka yang merusak tatanan. Dalam dunia profesional, prinsip ini adalah benteng pertama terhadap keputusan yang reaktif dan merugikan.
Tegas, Proporsional, dan Berbasis Fakta: Paradigma Baru Penegakan Aturan
Respons terhadap premanisme yang mengatasnamakan ormas mengajarkan satu hal: penilaian harus obyektif. Ormas yang menjadi mitra dalam menjaga ketertiban harus dilihat sebagai aset kolaborasi. Sebaliknya, kelompok yang merusak stabilitas wajib ditindak tanpa kompromi. Pelajaran kepemimpinannya jelas: penegakan aturan harus steril dari stigma dan generalisasi yang justru mematikan potensi sinergi.
- Tegaskan zero tolerance tanpa ragu terhadap perilaku yang mengganggu disiplin organisasi.
- Lakukan evaluasi proporsional berbasis fakta, hindari keputusan serampangan yang lahir dari emosi atau prasangka.
- Hindari generalisasi yang dapat merusak fondasi kolaborasi dan tanggung jawab bersama dengan entitas yang berpotensi positif.
Kolaborasi dan Kejelasan Peran: Formula Manajemen untuk Masalah Kompleks
Djon Afriandi mengidentifikasi premanisme sebagai tindakan pemaksaan kehendak yang merampas hak. Solusinya bukan hanya pada aparat penegak, tetapi pada kejelasan peran dan sinergi lintas elemen. Dalam konteks manajemen, ini adalah prinsip abadi: masalah kompleks membutuhkan kejelasan tanggung jawab dan kolaborasi aktif antar-departemen atau stakeholder untuk mencapai solusi yang solid dan berkelanjutan.
Penegakan yang efektif, menurutnya, membutuhkan dua pilar. Pertama, peran sentral dan tegas dari otoritas yang bertanggung jawab sebagai garda terdepan. Kedua, partisipasi aktif dari seluruh komponen sistem. Ini adalah model governance yang bisa diadopsi di organisasi mana pun: tegaskan pemimpin yang bertanggung jawab, lalu bangun aliansi strategis untuk mendukung eksekusi.
- Definisikan dengan tegas peran, wewenang, dan tanggung jawab setiap unit atau individu dalam sistem.
- Bangun dan dorong kolaborasi aktif, mengubah potensi konflik menjadi energi sinergis untuk menyelesaikan masalah.
- Terapkan pendekatan sistematis dan terkoordinasi, di mana ketegasan berjalan seiring dengan strategi yang matang.
Pola pikir ini memberikan landasan yang kokoh untuk menciptakan lingkungan yang disiplin, adil, dan produktif. Bagi profesional muda, ini adalah modal untuk membangun kredibilitas kepemimpinan: tegas pada prinsip, bijak dalam menilai, dan mahir dalam memimpin kolaborasi.
Takeaway Aksi untuk Profesional Muda: Mulailah dengan mendisiplinkan diri dalam menegakkan aturan tim secara konsisten dan adil. Saat menghadapi konflik atau pelanggaran, biasakan untuk mengumpulkan fakta sebelum memberi penilaian. Akhiri dengan memperjelas tanggung jawab dalam setiap proyek kolaborasi, memastikan setiap pihak memahami kontribusinya bagi tatanan organisasi yang lebih baik. Itulah esensi kepemimpinan yang tegas, proporsional, dan bertanggung jawab.