OLAHDISIPLIN

Disiplin Eksekutif

Kopassus Soroti Premanisme, Siapa Bertanggung Jawab Memberantasnya?

Pernyataan Kopassus tentang premanisme mengajarkan prinsip kepemimpinan kunci: kejelasan mandat dan koordinasi terstruktur adalah fondasi efektivitas. Bagi profesional muda, pelajarannya adalah fokus pada peran inti, hindari generalisasi, dan bangun kolaborasi lintas-fungsi untuk menyelesaikan masalah kompleks.

Kopassus Soroti Premanisme, Siapa Bertanggung Jawab Memberantasnya?

Dalam dunia kepemimpinan, kejelasan mandat adalah fondasi efektivitas. Pernyataan tegas Danjen Kopassus Mayjen TNI Djon Afriandi mengenai penindakan segala bentuk premanisme—termasuk yang mengatasnamakan ormas—bukan sekadar isu keamanan, melainkan cerminan prinsip manajemen organisasi yang krusial: setiap institusi, termasuk militer seperti Kopassus, harus beroperasi dalam batas tanggung jawab dan peran yang terdefinisi dengan jelas untuk menghindari duplikasi atau kekosongan wewenang.

Membedakan Organisasi dari Tindakan: Pelajaran dalam Kejelasan Peran

Djon dengan tepat mengingatkan pentingnya membedakan antara organisasi masyarakat yang sah dengan tindakan premanisme yang dilakukan individu atau kelompok. Ini adalah pelajaran manajerial mendasar: generalisasi yang merugikan sering muncul dari ketidakmampuan memisahkan identitas kolektif dari perilaku menyimpang anggotanya. Dalam konteks profesional, seorang pemimpin harus mampu:

  • Mengisolasi masalah: Mengidentifikasi tindakan atau individu spesifik yang bermasalah tanpa mencap seluruh tim atau departemen.
  • Mempertahankan objektivitas: Menilai kinerja atau pelanggaran berdasarkan fakta dan bukti, bukan prasangka terhadap kelompok.
  • Melindungi integritas sistem: Memastikan proses penanganan masalah tidak merusak budaya atau reputasi organisasi secara keseluruhan.

Koordinasi Lintas Institusi: Seni Manajemen Kompleksitas

Pernyataan ini menyoroti kompleksitas penanganan masalah sistemik seperti premanisme, yang sering melibatkan multi-pemangku kepentingan. Dari perspektif manajemen eksekutif, efektivitas tidak datang dari satu institusi yang bekerja sendiri, melainkan dari koordinasi terstruktur antar-lembaga dengan kewenangan yang saling melengkapi. Kopassus, dengan kapasitas dan mandatnya, menekankan batasan peran militer dalam urusan keamanan dalam negeri yang lebih luas. Ini mengajarkan bahwa kepemimpinan yang bijak mengenali batas kompetensinya dan aktif membangun kemitraan strategis.

Dalam lingkungan bisnis, prinsip ini diterjemahkan ke dalam kolaborasi antar-departemen untuk menyelesaikan masalah lintas-fungsional. Seorang manajer proyek yang efektif, misalnya, tidak akan mencoba menguasai semua aspek teknis, hukum, dan pemasaran sendirian. Sebaliknya, ia akan memastikan adanya:

  • Pembagian peran yang eksplisit antara tim engineering, legal, dan marketing.
  • Mekanisme komunikasi terstruktur untuk sinkronisasi progress dan eskalasi masalah.
  • Kejelasan dalam proses pengambilan keputusan untuk menghindari deadlock atau tumpang-tindih otoritas.

Insiden gangguan pembangunan dan pembakaran mobil polisi yang melatarbelakangi pernyataan ini adalah contoh nyata dari masalah yang membutuhkan respons terkoordinasi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan unsur keamanan lainnya. Tanggapan yang terfragmentasi hanya akan memperpanjang krisis dan mengurangi akuntabilitas.

Bagi profesional muda, inti pembelajaran di sini adalah bahwa kepemimpinan yang disiplin dimulai dengan memahami secara mendalam core mandate atau tugas utama peran Anda. Sebelum terjun menyelesaikan masalah, tanyakan: "Apakah ini berada dalam lingkup tanggung jawab dan kompetensi saya?" Jika ya, ambil alih dengan tegas. Jika tidak, identifikasi pihak yang berwenang dan bangun alur koordinasi yang jelas. Jangan biarkan semangat membantu justru menciptakan kebingungan peran atau mengikis otoritas institusi yang sah. Fokuslah pada penguatan sistem kolaborasi, bukan menjadi "pahlawan" yang bekerja sendiri.