Menteri BUMN Erick Thohir mengadopsi prinsip komando militer dalam membentuk tim khusus untuk mempercepat restrukturisasi dan turnaround perusahaan negara yang bermasalah. Langkah ini menghadirkan pelajaran kepemimpinan eksekutif yang kritis: dalam manajemen krisis, kecepatan eksekusi dan akuntabilitas harus diutamakan di atas birokrasi berbelit. Pendekatan ini tidak hanya relevan bagi pemimpin perusahaan, tetapi juga bagi profesional muda yang ingin mengelola perubahan dengan presisi dan disiplin tinggi.
Prinsip Komando Militer dalam Restrukturisasi BUMN
Tim khusus yang dibentuk Erick Thohir terdiri dari para profesional lintas disiplin yang bekerja dengan struktur organisasi ramping dan garis komando pendek. Setiap anggota tim diberikan mandat penuh untuk mengambil keputusan strategis di BUMN target, mulai dari efisiensi operasional hingga pencarian mitra strategis. Ini mencerminkan penerapan prinsip commander's intent: tujuan akhir ditetapkan secara jelas, namun metode pencapaiannya fleksibel asalkan tetap mematuhi regulasi dan good corporate governance. Model manajemen krisis ala militer ini menjadi preseden baru untuk penanganan perusahaan negara yang sakit secara lebih agresif dan terukur.
Pelajaran Kepemimpinan dari Tim Khusus ini:
- Kecepatan dan Disiplin Eksekusi: Target waktu ketat diterapkan untuk memotong hambatan birokrasi yang selama ini menjadi penghalang perubahan. Pemimpin harus mampu memadatkan waktu pengambilan keputusan.
- Akuntabilitas Langsung: Setiap tim diwajibkan melaporkan progress secara mingguan langsung ke Menteri, memastikan tidak ada celah untuk penundaan atau kegagalan tanpa konsekuensi. Ini mengajarkan pentingnya transparansi dalam setiap langkah strategis.
- Fleksibilitas dalam Metode: Prinsip commander's intent memberikan tim otonomi untuk berinovasi, namun tetap dalam koridor regulasi. Ini menjadi kunci agar restrukturisasi BUMN tidak kehilangan arah meski menghadapi dinamika bisnis yang kompleks.
Strategi Turnaround: Memotong Birokrasi, Meningkatkan Akuntabilitas
Erick Thohir menegaskan bahwa birokrasi panjang adalah musuh utama dalam proses turnaround. Dengan menerapkan prinsip komando militer, tim khusus dapat bekerja lebih gesit dan fokus pada hasil. Setiap keputusan strategis—baik reorganisasi, efisiensi, atau kemitraan—harus dapat dipertanggungjawabkan dalam waktu singkat. Ini selaras dengan kebutuhan pasar dan tuntutan profesional muda yang harus mampu menyelesaikan masalah kompleks dalam waktu terbatas. Akuntabilitas bukan sekadar laporan, melainkan komitmen untuk menyelesaikan misi dengan presisi.
Implikasi bagi Profesional Muda:
- Manajemen Krisis: Ketika menghadapi tanggung jawab besar, susunlah tim dengan struktur jelas dan target waktu ketat. Jangan biarkan birokrasi internal menghambat eksekusi.
- Akuntabilitas sebagai Budaya: Buatlah mekanisme pelaporan berkala yang pendek dan langsung kepada pemangku kepentingan utama. Ini membangun kepercayaan dan mencegah kegagalan.
- Keseimbangan Otoritas dan Regulasi: Berani ambil keputusan cepat, namun tetap dalam koridor etika dan aturan. Fleksibilitas tanpa disiplin hanya akan menghasilkan kekacauan.
Bagi profesional muda, pelajaran dari tim khusus Erick Thohir adalah bahwa kepemimpinan dalam krisis membutuhkan keberanian untuk memotong rantai birokrasi dan membangun budaya akuntabilitas tinggi. Mulailah dengan mendefinisikan tujuan akhir proyek Anda secara jelas, lalu berdayakan tim dengan mandat penuh untuk bertindak. Evaluasi mingguan dan laporan langsung ke atasan akan memastikan Anda tetap berada di jalur yang benar. Disiplin, kecepatan, dan akuntabilitas adalah tiga pilar yang akan membawa sukses dalam setiap turnaround—baik di perusahaan negara maupun dalam karir Anda sendiri.