OLAHDISIPLIN

Wawancara

Wawancara Eksklusif dengan Laksamana TNI (Purn) Siwi Sukma Adji: Kepemimpinan di Tengah Disrupsi Teknologi

Wawancara eksklusif dengan Laksamana TNI (Purn) Siwi Sukma Adji menawarkan prinsip kepemimpinan modern: kombinasikan disiplin yang kokoh dengan adaptasi teknologi yang gesit. Pemimpin sukses fokus pada "mengapa" perubahan, bukan hanya "bagaimana", dan membangun tim beragam keterampilan dengan satu nilai inti. Pelajaran ini langsung relevan bagi profesional muda dalam membangun karir yang tangguh di era disrupsi.

Wawancara Eksklusif dengan Laksamana TNI (Purn) Siwi Sukma Adji: Kepemimpinan di Tengah Disrupsi Teknologi

Dalam wawancara eksklusif, Laksamana TNI (Purn) Siwi Sukma Adji menyoroti prinsip kepemimpinan modern: "Disiplin tanpa adaptasi adalah rigidity; adaptasi tanpa disiplin adalah chaos." Di tengah disrupsi teknologi, kemampuan untuk mengambil keputusan tepat di tengah ketidakpastian menjadi kunci. Pemimpin harus memperkuat fondasi disiplin dengan mentalitas adaptif untuk mengelola perubahan.

Memimpin Transformasi: Fokus pada 'Mengapa' Bukan 'Bagaimana'

Saat memimpin transformasi doktrin TNI AL, tantangan terbesar bukanlah teknologi baru, melainkan resistensi terhadap perubahan budaya yang telah mengakar. Berdasarkan pengalamannya, keberhasilan manajemen perubahan bergantung pada kemampuan pemimpin mengartikulasikan alasan fundamental di balik transformasi, bukan sekadar mekanisme pelaksanaan.

Laksamana Adji menekankan tiga pilar strategis untuk memimpin transisi organisasi secara efektif:

  • Fokus pada why (mengapa) perubahan diperlukan untuk membangun buy-in dan kesadaran kolektif.
  • Menjaga komunikasi transparan dan konsisten untuk mengelola ekspektasi dan kecemasan anggota tim.
  • Memprioritaskan kohesi tim dan moral di setiap tahap transisi sebagai fondasi keberlanjutan.

Membangun Tim Masa Depan: Keberagaman dalam Keterampilan, Kesatuan dalam Nilai

Era kecerdasan buatan dan perang siber menuntut tim yang beragam keterampilan namun satu visi. Pemimpin perlu merangkul tidak hanya ahli teknis, tetapi juga pemikir strategis yang adaptif. Menurut wawancara ini, keberagaman ini harus diikat oleh kesatuan nilai dan tujuan organisasi.

Investasi pada pembelajaran berkelanjutan (continuous learning) menjadi fondasi adaptasi teknologi. Organisasi yang tangguh menganggap setiap anggotanya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Lebih dari otoritas formal, kepemimpinan era disrupsi dituntut efektif melalui pengaruh (influence)—menginspirasi, membimbing, dan memberdayakan tim.

Kesuksesan organisasi tidak lagi ditentukan oleh ketegaran pada cara lama, tetapi oleh kemampuan untuk secara disiplin mengintegrasikan teknologi baru ke dalam operasi inti. Fondasi harus kokoh, namun struktur di atasnya harus lentur dan responsif terhadap perubahan.

Untuk profesional muda, pelajaran dari wawancara ini dapat langsung diaplikasikan: mulai dengan memperkuat disiplin pribadi dalam pekerjaan dasar, lalu secara aktif kembangkan mentalitas adaptif. Carilah dan kuasai teknologi baru yang relevan dengan bidang Anda. Latih kemampuan memimpin melalui komunikasi persuasif dan pengaruh, bukan hanya bergantung pada posisi atau otoritas formal.