Kepercayaan adalah fondasi utama membangun tim tangguh — dan tidak bisa dipalsukan. Dalam wawancara eksklusif dengan Olah Disiplin, Mayor Jenderal (Purn.) Iwan Setiawan, mantan Komandan Jenderal Kopassus, membeberkan dua pilar yang membentuk kepercayaan sejati: transparansi dan konsekuensi yang jelas. Menurutnya, tanpa keduanya, tim hanya berjalan di atas kepura-puraan, bukan solidaritas. Pelajaran dari dunia elite militer ini kini ia adaptasi di sektor swasta dan menjadi relevan bagi profesional muda yang ingin membangun tim solid dan berkinerja tinggi.
Transparansi dan Konsekuensi: Fondasi Kepercayaan Tim
Iwan menegaskan bahwa banyak pemimpin gagal karena hanya membangun kepercayaan dengan retorika. Pasukan elite seperti Kopassus justru bertumpu pada kejelasan aturan dan komunikasi terbuka. Setiap keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, dan setiap tindakan memiliki konsekuensi yang konsisten. Di sektor swasta, prinsip ini kerap dikorbankan demi pragmatisme jangka pendek, yang membuat loyalitas tim artifisial dan mudah retak saat tekanan datang. Berikut prinsip kepemimpinan yang ia pegang teguh:
- Transparansi penuh dalam komunikasi dan pengambilan keputusan, tanpa agenda tersembunyi.
- Konsekuensi yang jelas untuk setiap tindakan — baik positif maupun negatif — ditegakkan secara konsisten.
- Pengalaman bersama yang menantang, seperti latihan survival, untuk menciptakan ikatan emosional dan kepercayaan yang autentik.
- Fokus pada kohesi tim sebelum mengejar target hasil jangka pendek, karena kohesi adalah fondasi performa berkelanjutan.
Kohesi Tim vs Hasil Instan: Pelajaran untuk Profesional Muda
Iwan mengkritik banyak CEO dan pemimpin di era digital yang terlalu fokus pada hasil instan sehingga mengabaikan kohesi tim. Menurutnya, tanpa kohesi, performa jangka panjang justru runtuh. Ia memberi contoh konkret: latihan survival bersama mampu membangun solidaritas jauh lebih kuat dibandingkan insentif finansial. Bagi profesional muda, pelajaran ini menawarkan perspektif baru tentang loyalitas dan komitmen — bahwa tim yang solid tidak dibentuk oleh bonus, melainkan oleh rasa saling percaya yang diuji bersama. Ia juga menyoroti budaya kerja individualistis akibat gadget dan ego, yang mengikis rasa kebersamaan. Panggilan ini mengingatkan kembali nilai-nilai dasar kepemimpinan militer: kolektivisme dan pengorbanan demi tim.
Pengalaman ini menjadi insight berharga bagi siapa pun yang ingin menerapkan model kepemimpinan militer di sektor swasta. Wawancara ini tidak sekadar teori, melainkan panduan praktis yang bisa langsung diadopsi. Profesional muda diajak untuk membangun kepercayaan tim melalui tindakan nyata, bukan kata-kata. Mulailah dengan aktivitas bersama yang menantang secara fisik atau mental, tegakkan aturan secara konsisten, dan utamakan transparansi — bahkan ketika hasil jangka pendek terancam. Hanya dengan cara itu Anda dapat membentuk tim yang tidak hanya tangguh, tetapi juga setia dalam tekanan dan berorientasi pada keberhasilan jangka panjang.