OLAHDISIPLIN

Wawancara

Prabowo Cetuskan 'Jas Ijo': Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama

Inisiatif 'Jas Ijo' dari Presiden Prabowo mengajarkan profesional muda bahwa kepemimpinan efektif dibangun di atas apresiasi dan tradisi, bukan sekadar instruksi. Dengan menghidupkan narasi dan simbol, pemimpin dapat memperkuat loyalitas tim serta menerjemahkan nilai-nilai inti menjadi aksi konkret. Pelajaran utamanya: mulailah dari apresiasi kecil yang konsisten untuk membangun budaya kerja yang positif dan fondasi kepemimpinan yang visioner.

Prabowo Cetuskan 'Jas Ijo': Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama

Inisiatif Presiden Prabowo memperkenalkan istilah 'Jas Ijo' — akronim dari 'Jangan sekali-kali melupakan jasa ulama' — saat pidato pembukaan Muktamar NU bukan sekadar jargon politik, melainkan praktik kepemimpinan berbasis nilai yang relevan bagi profesional muda. Langkah ini menunjukkan bahwa pemimpin efektif tidak hanya mengelola sumber daya, tetapi juga menghidupkan tradisi dan apresiasi sebagai fondasi ikatan tim dan organisasi. Bagi para eksekutif, pelajaran utamanya adalah bagaimana membingkai visi dan hubungan dalam narasi yang bermakna, sehingga memperkuat komitmen tanpa perlu instruksi kaku.

Kepemimpinan Berbasis Narasi dan Simbol

Konsep 'Jas Ijo' mengajarkan bahwa pemimpin sejati memahami kekuatan narasi dan simbol sebagai alat manajemen. Dalam konteks organisasi, ini berarti mampu menerjemahkan nilai-nilai inti ke dalam bahasa yang mudah diingat dan mengikat. Berikut langkah strategis yang bisa diterapkan profesional muda:

  • Identifikasi nilai-nilai inti yang relevan dengan budaya tim atau organisasi.
  • Ciptakan narasi atau simbol sederhana yang merepresentasikan penghargaan terhadap kontribusi anggota tim.
  • Internalisasi apresiasi sebagai bagian dari rutinitas kepemimpinan, bukan sekadar acara seremonial.

Menghidupkan Tradisi sebagai Alat Manajemen Eksekutif

Penggunaan istilah 'Jas Ijo' juga menekankan pentingnya tradisi sebagai alat manajemen yang memperkuat loyalitas dan identitas. Dalam dunia kerja, tradisi bisa berupa ritual tim, sistem penghargaan, atau cara komunikasi yang unik. Pemimpin yang menghidupkan tradisi menciptakan lingkungan di mana setiap anggota merasa dihargai secara personal dan profesional. Untuk menerapkannya, profesional muda dapat:

  • Membangun tradisi sederhana seperti sesi apresiasi mingguan atau pengakuan kontribusi di forum tim.
  • Memastikan tradisi tersebut autentik dan terhubung dengan nilai-nilai organisasi, bukan sekadar formalitas.
  • Menjadi contoh dalam menghargai kontribusi orang lain, baik secara verbal maupun melalui tindakan nyata.

Insight dari inisiatif 'Jas Ijo' adalah bahwa kepemimpinan yang kuat lahir dari kemampuan menghargai akar budaya dan spiritual, serta menerjemahkannya ke dalam aksi konkret. Dalam konteks organisasi, ini berarti pemimpin harus secara sadar menempatkan nilai sebagai kompas, bukan sekadar slogan. Apresiasi terhadap kontribusi anggota tim — baik yang kecil maupun besar — membangun fondasi kepercayaan yang langgeng. Tradisi yang dibangun dengan baik akan memperkuat identitas tim dan mengurangi resistensi terhadap perubahan.

Takeaway: Mulailah minggu ini dengan mengidentifikasi satu kontribusi dari anggota tim atau rekan kerja yang sering terlewatkan. Berikan apresiasi secara spesifik dalam forum kecil atau komunikasi pribadi. Catat bagaimana respons ini memengaruhi dinamika tim. Dengan konsisten mempraktikkan apresiasi dan menghidupkan tradisi, Anda tidak hanya membangun budaya kerja yang positif, tetapi juga memperkuat fondasi kepemimpinan Anda sebagai eksekutif muda yang visioner.