Kepemimpinan yang efektif tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari kemampuan menyeimbangkan empati dan ketegasan. Hal ini ditegaskan oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Endi Supardi dalam wawancaranya bersama Kompas. Di lingkungan militer yang sarat tekanan dan disiplin, dua elemen ini menjadi fondasi membangun kepercayaan serta efektivitas tim. Bagi profesional muda, pelajaran ini sangat relevan untuk menavigasi kompleksitas organisasi modern yang menuntut pemimpin adaptif dan berorientasi pada hasil.
Empati dan Ketegasan: Dua Sisi Mata Uang Kepemimpinan Efektif
Mayjen Endi menegaskan bahwa pemimpin yang hanya mengandalkan ketegasan cenderung ditakuti, namun jarang dihormati. Sebaliknya, pemimpin yang hanya berempati tanpa ketegasan akan kehilangan kendali atas timnya. Kombinasi keduanya adalah formula lengkap dalam kepemimpinan militer. Pendekatan ini mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bukan pilihan antara tegas atau peduli, melainkan kemampuan mengintegrasikan keduanya secara proporsional.
- Empati bukan kelemahan: Kemampuan mendengarkan keluhan anggota tim adalah kekuatan strategis. Mayjen Endi memberi contoh saat memimpin Latihan Tempur Pendaratan Amfibi, ia selalu meluangkan waktu khusus untuk berdialog langsung dengan prajurit.
- Ketegasan sebagai pemicu aksi: Pemimpin harus mampu mengambil keputusan sulit tepat waktu, tanpa ragu, dan konsisten. Sikap ini mencegah keraguan yang dapat menggerogoti kredibilitas dan momentum tim.
- Kombinasi membangun respek: Ketika empati dan ketegasan berjalan beriringan, pemimpin tidak lagi sekadar atasan, melainkan mitra strategis yang dihormati bawahan dan rekan kerja.
Membangun Kredibilitas Melalui Hard Skill dan Soft Skill
Pendekatan Mayjen Endi menegaskan bahwa kepemimpinan modern tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi teknis (hard skill), tetapi juga kecerdasan emosional (soft skill). Dalam konteks militer, kemampuan mengambil keputusan sulit tanpa mengorbankan hubungan baik adalah investasi jangka panjang. Hal yang sama berlaku bagi profesional muda yang bercita-cita menjadi pemimpin di industri masing-masing. Kombinasi kepemimpinan yang berempati dan tegas akan membangun kredibilitas Anda di mata atasan maupun rekan kerja.
Pesan yang disampaikan jelas: jangan memilih antara tegas atau empati, kuasai keduanya. Langkah awal yang bisa diambil adalah membangun kebiasaan mendengar aktif, kemudian menerapkan batasan yang jelas dalam tim. Kombinasi ini akan membangun kredibilitas Anda sebagai pemimpin. Kepemimpinan yang berkelanjutan tidak dibangun dari jabatan, tetapi dari kepercayaan yang diperkuat setiap hari oleh sikap konsisten dan kemampuan berkomunikasi secara manusiawi.
Takeaway eksekutif: Mulai minggu ini, luangkan 15 menit setiap hari untuk mendengarkan masukan anggota tim tanpa interupsi. Pada saat yang sama, tetapkan satu aturan tegas yang wajib dipatuhi semua orang. Latih keseimbangan ini secara konsisten. Kepemimpinan sejati adalah tentang bagaimana Anda membuat orang lain merasa didengar, sekaligus tetap diarahkan pada tujuan organisasi.