Dalam wawancara eksklusif, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menegaskan bahwa fondasi kepemimpinan di era maritim modern bertumpu pada dua pilar: mental juang yang tangguh dan kolaborasi lintas entitas. Kedua elemen ini bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan strategis yang menentukan kesiapan organisasi menghadapi kompleksitas operasi di laut. Bagi para eksekutif muda, analogi ini relevan karena proyek besar—baik di sektor publik maupun swasta—memerlukan tim yang tidak hanya ulet secara individu, tetapi juga mampu bersinergi dengan berbagai pihak. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menciptakan ekosistem di mana kedua atribut ini tumbuh subur.
Mental Juang: Fondasi Ketangguhan Organisasi
KSAL menjelaskan bahwa mental juang tidak muncul begitu saja; ia dibangun melalui pelatihan yang realistis dan menantang batas. Di lingkungan TNI AL, program latihan dirancang untuk menguji ketahanan fisik dan mental prajurit, memastikan mereka siap menghadapi tekanan operasional yang sesungguhnya. Prinsip ini dapat diadopsi oleh organisasi bisnis untuk membangun budaya ketahanan (resilience). Beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan:
- Rancang program pengembangan yang menantang, seperti simulasi krisis atau proyek dengan target ambisius, untuk memicu daya juang tim.
- Evaluasi secara berkala batas kemampuan individu dan tim, lalu dorong perbaikan berkelanjutan tanpa menimbulkan kelelahan berlebihan.
- Berikan penghargaan atas kegigihan dan keberanian mengambil risiko terukur, bukan hanya hasil akhir.
Dengan mental juang yang kuat, organisasi dapat bertahan dalam situasi sulit dan bangkit lebih cepat dari kegagalan. Ini adalah modal penting dalam persaingan bisnis yang dinamis.
Kolaborasi: Force Multiplier di Era Kompleksitas
Pilar kedua adalah kolaborasi. KSAL menekankan bahwa operasi maritim modern selalu melibatkan banyak pihak—internal TNI, instansi pemerintah, mitra internasional, bahkan sektor swasta. Sinergi yang baik menjadi force multiplier yang melipatgandakan efektivitas sumber daya. Di dunia korporat, kemampuan membangun jaringan dan kerja sama lintas fungsi adalah kunci sukses. Berikut praktik kolaborasi yang perlu diterapkan pemimpin:
- Bangun komunikasi terbuka dan transparan antar divisi atau mitra untuk menghindari silo informasi.
- Libatkan pemangku kepentingan sejak awal perencanaan proyek, sehingga tercipta rasa kepemilikan bersama.
- Adopsi pendekatan co-creation dengan pihak eksternal, seperti akademisi atau startup, untuk memperkaya solusi.
- Gunakan teknologi kolaborasi (platform digital, rapat daring) untuk memfasilitasi koordinasi lintas geografi dan zona waktu.
Kolaborasi yang efektif memungkinkan organisasi meraih hasil lebih besar dari jumlah upaya masing-masing individu. Pemimpin harus menjadi katalisator yang menghubungkan berbagai potensi.
Takeaway untuk Profesional Muda: Mulailah dengan memperkuat mental juang pribadi melalui tantangan nyata—ambil proyek sulit, keluar dari zona nyaman, dan jadikan kegagalan sebagai pelajaran. Sejalan dengan itu, perluas jaringan kolaborasi dengan aktif membangun hubungan profesional lintas sektor. Ingatlah bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya tentang ketangguhan individu, melainkan kemampuan menggerakkan sinergi tim menuju tujuan bersama. Terapkan prinsip dari TNI AL ini dalam karier Anda: latih mental juang setiap hari, dan jadilah penghubung yang memfasilitasi kolaborasi produktif.